Filosofi dan Persepsi Masyarakat Mengenai Ngaben Tanpa Petulangan

Authors

  • Ni Made Indrayani

Keywords:

upacara ngaben tanpa petulangan

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menegetahui filosopi dan persepsi
masyarakat mengenai Ngaben tanpa Petulangan yang dilaksanakan oleh
masyarakat di Desa Restu Rahayu Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung
Timur. Makna filosofi Petulangan adalah simbul dari soroh/kawitan seseorang
yang terdapat di dalam prasasti masing-masing yang merupakan tempat dari
pembakaran sawa. Adapun jenis-jenis Petulangan yang dapat digunakan adalah
Lembu, Singa, Gajah Mina, Naga Kaang, Gadarba, Menjangan, Macan
(Harimau), sudang-sudangan. Berdasarkan Awig-awig upacara Ngaben tanpa
Petulangan di Desa Restu Rahayu menjelaskan bahwa pelaksanaan Ngaben tanpa
Petulangan di Desa Restu Rahayu dilaksanakan secara sederhana atau boleh tidak
mempergunakan Petulangan. Jadi bagi masyarakat yang mampu melaksanakan
upacara Ngaben dengan menggunakan Petulangan di perbolehkan dan jika
masyarakat yang tidak mampu melaksanakan upacara Ngaben menggunakan
Petulangan juga dianggap sah tergantung dari tingkat kemampuan masyarakat itu
sendiri sesuai Lontar Upacara Pati Urip Lembar 3. Persepsi masyarakat mengenai
Ngaben tanpa Petulangan, masyarakat menyatakan setuju dengan adanya
pelaksanaan upacara Ngaben tanpa Petulangan. Terlihat dari hasil rata-rata
presentase 55.83 % - 82.49 % masyarakat menyetujui dengan adanya pelaksanaan
upacara Ngaben tanpa Petulangan untuk menghemat biaya dan waktu dijaman
modern ini. Masyarakat juga menyetujui dengan adanya partisipasi dan aturan
yang mengatur di dalam adat untuk meningkatkan rasa kegotong royongan dan
disiplin diri bagi masyarakat.

Downloads

Published

2020-12-21