JURNAL PENDIDIKAN AGAMA https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung <p>Jurnal Pendidikan Agama diterbitkan dua kali dalam satu tahun, yaitu bulan Maret dan September. Sebagai Perguruan Tinggi Swasta, STAH Lampung ikut melaksanakan pembangunan dibidang pendidikan, sehingga mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia Hindu. Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan salah satunya dengan menerbitkan Jurnal dengan nama; Jurnal Pendidikan Agama. Jurnal Pendidikan Agama terbit kali ini memuat hasil-hasil penelitian di bidang Pendidikan Agama Hindu, Hukum Hindu dan Kebudayaan.</p> Sekolah Tinggi Agama Hindu Lampung en-US JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2086-5864 Implementasi Nilai-Nilai Agama Hindu Dalam Keluarga Untuk Mewujudkan Budi Pekerti Pemuda Di Desa Balinuraga https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/68 <p>Kehidupan spiritual mulai dirasakan kurang diimplementasikan di Desa Balinuraga terutama dalam lingkungan keluarga, akibatnya adalah moral dan etika masyarakat khususnya generasi muda Hindu saat ini semakin mendangkal. Dalam Ajaran Agama Hindu terdapat nilai-nilai agama yang sangat mendalam bagi kehidupan manusia. Dengan nilai agama tersebut, manusia mampu hidup dan melaksanakan swadharmanya sebagai orang yang beragama Hindu sehingga dapat mencapai tujuan akhir yaitu <em>Moksartam Jagadhita Ya Caiti Dharma</em>. Permasalahannya sekarang bagaimanakah implementasi nilai-nilai Agama Hindu dalam keluarga dan budi pekerti pemuda di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan tipe penelitian adalah penelitian deskriptif selain itu juga disertai data dari hasil kuesioner. Hasil penelitian yang diperoleh menyatakan bahwa umat Hindu di Desa Balinuraga belum mengimplementasikan nilai- nilai agama dengan baik dalam keluarganya dan generasi mudanya mencerminkan budi pekerti yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan untuk umat Hindu khususnya di Desa Balinuraga lebih menerapkan nilai-nilai agama dalam keluarganya sehingga generasi mudanya mencerminkan generasi muda yang memiliki budi pekerti yang luhur.</p> Suyono Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-15 2020-12-15 8 2 Pola Pendidikan Agama Hindu Di Dalam Keluarga Untuk Mewujudkan Putra Suputra https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/75 <p>Dalam ajaran agama Hindu lapangan kehidupan dibagai menjadi empat yang<br>disebut dengan catur asrama, yakni brahmacari, grahasta, wanaprasta, dan bhisuka.<br>Pada masa grahasta mendidik seorang anak dengan baik, Pendidikan agama di dalam<br>keluarga tidak dijalankan oleh para orang tua, misalnya dalam hal yang kecil yaitu<br>masalah sembahyang orang tua tidak penah tahu kalau anaknya sudah melakukan<br>sembahyang apa belum, ada juga orang tua yang hanya menyuruh anaknya untuk<br>melakukan sembahyang namun, orang tuanya sendiri tidak melakukan sembahyang.<br>Adapun sebuah permasalahan yang terjadi yaitu bagaimana penerapan pendidikan Agama<br>Hindu di dalam keluarga untuk mewujudkan putra suputra di desa Mekar Karya<br>Kecamatan Wawai Karya Kabupaten Lampung Timur dan kendala-kendala apa yang<br>dihadapi oleh keluarga untuk mewujudkan putra suputra. Metode yang digunakan adalah<br>penelitian kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah Pemangku, tokoh umat dan<br>masyrakat. Penerapan pendidikan agama Hindu di dalam keluarga untuk mewujudkan<br>putra suputra yang sangat berperan penting adalah sebuah keluarga atau orang tua, orang<br>tualah yang pertama memberikan pendidikan kepada anak, agar menjadi anak yang<br>terbaik dan berbhakti kepada kedua orang tua. Kendala-kendala yang dihadapi oleh<br>keluarga untuk mewujudkan putra suputra. Pendidikan yang mendasar diberikan kepada<br>anak, misal: bertutur kata yang baik, sopan santun, diajak sembahyang dan banyak lagi<br>yang lainnya. Dengan pendidikan seperti itu lah yang harus diberikan kepada anak, agar<br>nantinya pada saat ia dewasa menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua,<br>semuanya itu adalah kewajiban kedua orang tua untuk mendidik anak, dengan begitu<br>maka anak akan menjadi anak yang putra suputra.</p> Teguh Samiadi I Komang Tri Adiana Ni Made Indrayani Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-21 2020-12-21 8 2 Hubungan Antara Kelekatan Anak Balita Dan Orang Tuanyadengan Perkembangan Sosial, Emosional dan Kecerdasan https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/73 <p>salah satu dalam membantu meningkatkan perkembangan pada anak,<br>yaitu dengan menciptakan hubungan interaksi yang baik antara anak dan orang tua<br>sebagai pengasuh dalam keluarga khususnya pada anak balita, sebab untuk<br>mencapai perkembangan yang optimal, usaia balita adalah usia dimana anak<br>dengan mudah menerima rangsangan yang diberikan oleh objek sekelilingnya. <br>Oleh karena itu upaya mewujudkan perkembangan anak balita ini, tidak terlepas<br>dari peranan keluarga terutama orang tua sebagai pengasuh terdekat untuk<br>memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan bagi perkembangan anak balitanya.<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kelekatan anak balita dan orang<br>tuanya berhubungan dengan perkembangan sosial, emosional dan kecerdasan pada<br>anak balita. Metode penelitian meliputi : sampel penelitian sebanyak 70 orang dari<br>700 orang tua yang mempunyai anak balita atau 10 % dari seluruh populasi yang<br>ada. Teknik sampling yang digunakan adalah Metode Proporsional Insidental<br>Sampling. Sumber data adalah dengan data primer dan data sekunder. Teknik<br>analisis data menggunakan Metode statistik yaitu table silang dan korelasi Product<br>Moment. Berdasarkan dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa, kelekatan anak<br>balita dan orang tuanya mempeunyai hubungan dengan perkembangan sosial anak<br>balita dengan koefisien korelasi sebesar 0,071 lebih besar darimketentuan table,<br>tetapi hubungan antara kedua variable yaitu kelekatan dan perkembangan sosial<br>tidak signifikan pada taraf 99% artinya hanya ada toleransi sebesar 1% dengan<br>arah huubungan yang positif. Kelekatan anak balita dan orang tuanya tidak<br>mempunyai hubungan dengan perkembangan emosional anak balita dengan<br>koefisien korelasi sebesar 0,090 lebih kecil dari ketentuan tabel. Kelekatan anak<br>balita dan orang tuanya tidak mempunyai hubungan dengan perkembangan<br>kecerdasan anak balita dengan koefisien korelasi sebesar 0,041 lebih kecil dari<br>ketentuan tabel.</p> Wayan Sukarlinawati Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-21 2020-12-21 8 2 Persepsi Masyarakat Desa Restu Rahayu Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur terhadap Ngaben Tanpa Petulangan https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/70 <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk menegetahui persepsi masyarakat mengenai<br>Ngaben tanpa Petulangan yang dilaksanakan oleh masyarakat di Desa Restu Rahayu<br>Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur. Penelitiana ini menggunakan<br>pendekatan kualitatif. Populasi penelitian adalah seluruh penduduk yang beragama Hindu<br>di Desa Restu Rahayu Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung Timur yang<br>berjumlah 1599 jiwa. Sampel penelitian adalah 30 kepala keluarga dan 7 orang<br>narasumber untuk diwawancarai diambil menggunakan teknik proposive sampling.<br>Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pedoman wawancara,<br>kuisioner, dan dokumentasi.</p> <p>Berdasarkan analisis hasil wawancara dan kuisioner secara deskriftif diperoleh<br>kesimpulan. Persepsi masyarakat mengenai Ngaben tanpa Petulangan, masyarakat<br>menyatakan setuju dengan adanya pelaksanaan upacara Ngaben tanpa Petulangan. <br>Terlihat dari hasil rata-rata presentase 55.83 % - 82.49 % masyarakat menyetujui dengan<br>adanya pelaksanaan upacara Ngaben tanpa Petulangan untuk menghemat biaya dan<br>waktu dijaman modern ini. Masyarakat juga menyetujui dengan adanya partisipasi dan<br>aturan yang mengatur di dalam adat untuk meningkatkan rasa kegotong royongan dan<br>disiplin diri bagi masyarakat.</p> Niwayan Seruni Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-21 2020-12-21 8 2 Persepsi Masyarakat Di Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tenga Terhadap Aktivitas Keagamaan Alumni Stah Lampung https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/76 <p>Alumni STAH Lampung selain disiapkan menjadi seorang guru/pendidik juga memiliki peran yang besar dimasyarakat yaitu sebagai katalisator, kontributor dan again of change. Dari ke tiga peran tersebut masyarakat memiliki harapan yang besar kepada alumni STAH Lampung untuk dapat memajukan umat dalam bidang keagamaan. Namun tidak semua alumni aktif dalam kegiatan keagamaan seperti yang terjadi di Kecamatan Seputih Mataram, hal ini juga ditambah dengan beberapa keluhan tokoh masyarakat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimanakah persepsi masyarakat di Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah terhadap alumni STAH Lampung dan aktivitas keagamaannya dan (2) Apakah aktivitas keagamaan alumni STAH Lampung berkorelasi dengan persepsi masyarakat di Kecamatan Seputih Mataram Kabupaten Lampung Tengah. <br><br>Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik disproportionate stratified rondom sampling dengan mengunakan rumus slovin. Teknik pengumpulan data menggunakan angket/kuesioner. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis korelasi product moment. Kesimpulan dalam penelitian ini persepsi masyarakat di Kecamatan Seputih Mataram terhadap alumni STAH Lampung dengan skor rata-rata 2,89 dan aktivitas keagamaan alumni STAH Lampung memiliki skor rata-rata 1,73. Aktivitas keagamaan alumni STAH Lampung berkorelasi positif sedang dan sangat nyata dengan persepsi masyarakat di Kecamatan Seputih Mataram.</p> I Made Sutharjana Budi Asmoro Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-15 2020-12-15 8 2 Filosofi dan Persepsi Masyarakat Mengenai Ngaben Tanpa Petulangan https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/74 <p>Tujuan penelitian ini adalah untuk menegetahui filosopi dan persepsi<br>masyarakat mengenai Ngaben tanpa Petulangan yang dilaksanakan oleh<br>masyarakat di Desa Restu Rahayu Kecamatan Raman Utara Kabupaten Lampung<br>Timur. Makna filosofi Petulangan adalah simbul dari soroh/kawitan seseorang<br>yang terdapat di dalam prasasti masing-masing yang merupakan tempat dari<br>pembakaran sawa. Adapun jenis-jenis Petulangan yang dapat digunakan adalah<br>Lembu, Singa, Gajah Mina, Naga Kaang, Gadarba, Menjangan, Macan<br>(Harimau), sudang-sudangan. Berdasarkan Awig-awig upacara Ngaben tanpa<br>Petulangan di Desa Restu Rahayu menjelaskan bahwa pelaksanaan Ngaben tanpa<br>Petulangan di Desa Restu Rahayu dilaksanakan secara sederhana atau boleh tidak<br>mempergunakan Petulangan. Jadi bagi masyarakat yang mampu melaksanakan<br>upacara Ngaben dengan menggunakan Petulangan di perbolehkan dan jika<br>masyarakat yang tidak mampu melaksanakan upacara Ngaben menggunakan<br>Petulangan juga dianggap sah tergantung dari tingkat kemampuan masyarakat itu<br>sendiri sesuai Lontar Upacara Pati Urip Lembar 3. Persepsi masyarakat mengenai<br>Ngaben tanpa Petulangan, masyarakat menyatakan setuju dengan adanya<br>pelaksanaan upacara Ngaben tanpa Petulangan. Terlihat dari hasil rata-rata<br>presentase 55.83 % - 82.49 % masyarakat menyetujui dengan adanya pelaksanaan<br>upacara Ngaben tanpa Petulangan untuk menghemat biaya dan waktu dijaman<br>modern ini. Masyarakat juga menyetujui dengan adanya partisipasi dan aturan<br>yang mengatur di dalam adat untuk meningkatkan rasa kegotong royongan dan<br>disiplin diri bagi masyarakat.</p> Ni Made Indrayani Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-21 2020-12-21 8 2 Implikasi Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti Terhadap Kesiapan Guru Agama Hindu Dalam Pelaksanaan Kurikulum 2013 https://ejournal.stahlampung.ac.id/index.php/jpastahlampung/article/view/71 <p>Kurikulum 2013 yang diterapkan secara serentak di seluruh Indonesia termasuk di Kota<br>Bandar Lampung pada tahun pelajaran 2014/2015 sesuai dengan kebijakan pemerintah belum<br>dapat dilaksanakan dengan baik oleh para guru, termasuk guru Agama Hindu. Hal ini dinyatakan<br>oleh para guru Agama Hindu, siswa Hindu, dan kepala sekolah di Kota Bandar Lampung.<br>Kondisi tersebut menurut para guru Agama Hindu terjadi karena kurangnya persiapan dari pihak<br>pemerintah sebelum melaksanakan kurikulum 2013, baik dari segi sarana dan prasarana maupun<br>Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini adalah para guru yang belum menerima sosialisasi<br>sebelum menerapkan kurikulum 2013.</p> Kadek Oka Ramantari & Ni Gusti Ayu Made Afrianti Copyright (c) 2020 JURNAL PENDIDIKAN AGAMA 2020-12-21 2020-12-21 8 2